GELAR SEMJUR, PERS UNDANG DUA TOKOH JURNALISTIK

GELAR SEMJUR, PERS UNDANG DUA TOKOH JURNALISTIK

GELAR SEMJUR, PERS UNDANG DUA TOKOH JURNALISTIK

No Comments on GELAR SEMJUR, PERS UNDANG DUA TOKOH JURNALISTIK

PERS HIMASTA-ITS sukses gelar semjur 2017 bertajuk “Journalistic Photography and Writing Inspirations” pada Sabtu, 29 April 2017. Bertempat di Teater C Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, semjur menghadirkan narasumber dengan jam kerja tinggi yang siap membagi ilmu mengenai inspirasi menulis dan fotografi jurnalistik. Adalah Yuyung Abdi, fotografer senior Jawa Pos dan Mukhlis N. Said, presiden BEM ITS 2013/2014 sekaligus penulis buku “Metamorfosa Siswa Jadi Mahasiswa”, orang-orang berpengalaman yang menjadi narasumber di semjur 2017 ini.

Sebagai pembicara pada sesi pertama, Yuyung Abdi menuturkan bahwa fotografi jurnalistik sangat berbeda dengan foto human interest. Foto human interest lebih menonjolkan mengenai aktivitas manusia sedangkan fotografi jurnalistik tidak berkutat dengan aktivitas manusia melainkan lebih mensintesiskan tanda benda dan manusia dalam bentuk analogi. Sehingga seorang fotojurnalis harus memahami simbol, tanda dan atribut dalam foto.

Tak hanya berpengalaman di bidang fotografi, Yuyung Abdi juga seorang professional dalam bidang tulis-menulis. Sudah banyak karya yang ia cetak dalam bentuk buku, salah satunya buku “Sex for Sale”. Buku ini mengungkap fenomena prostitusi di 60 tempat di Indonesia dan mengantarkan Yuyung Abdi berada dalam acara ternama “Kick Andy”. Ia menuturkan bahwa seorang fotografer jurnalistik tidak boleh hanya memotret saja, namun harus paham bagaimana mengendalikan situasi agar mampu mendapatkan foto yang bercerita.

Jurnalistik tentu tidak hanya menceritakan mengenai sepatah-dua patah kejadian. Terkadang jurnalistik bersifat kronologis sehingga dibutuhkan foto-foto yang dapat menceritakan serangkaian kejadian yang selanjutnya disebut story photo. Story photo dapat memperkuat kedalaman cerita yang didasarkan dari seseorang atau suatu kejadian sehingga fenomena sosial sangat dibutuhkan dalam merangkai foto-foto.

Tak hanya fotografi jurnalistik saja yang dipaparkan pada semjur kali ini. Dengan mengundang Mukhlis N. Said, peserta disuguhkan mengenai inspirasi menulis serta sedikit bedah buku miliknya. Menurut presiden BEM ITS 2013/2014 ini, imajinasi dan ide untuk menulis mengalir dengan sendirinya ketika hidup lebih berwarna karena banyaknya jenis kegiatan yang mengisi. Banyak berkutat dengan dunia kampus, Mukhlis mendapatkan ide untuk menulis sebuah buku yang menceritakan tentang kejadian unik yang berhubungan dengan kampus. Alhasil, lahirlah sebuah buku yang berjudul “Metamorfosa Siswa Jadi Mahasiswa” yang dapat membantu lulusan SMA merubah pola pikir dan perilaku agar siap menjadi seorang mahasiswa.

“Tidak semua tulisan berbuah dari pengalaman pribadi”, tutur Mukhlis. Ia mengungkapkan bahwa banyak kisah yang ditulisnya bersumber dari pengalaman kawan-kawan karibnya. Namun tentu saja tulisan yang didapatkan dari pengalaman orang lain tidak akan seindah tulisan dari pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi akan membuat sebuah tulisan terasa lebih hidup, sehingga untuk mendapatkan tulisan yang baik, seseorang harus berani menghadapi berbagai tantangan kehidupan agar cerita yang dihasilkan nyata dan penuh warna.

Seseorang yang menganggap bahwa dunia kampus adalah miniatur dari kehidupan ini juga mengungkapkan bahwa setiap orang bebas berkarya, karena karya tidak mengenal batasan umur, pendidikan atau bahkan keahlian. Mukhlis kembali berpesan bahwa karya bisa dibentuk dalam model apapun dan salah satunya berupa tulisan. “Menulislah dari perjalanan dan rasamu, maka tulisan ini akan lebih hidup”, tutup Mukhlis. (juw/dza)

About the author:

Related Posts

Leave a comment

Back to Top